Ketika Bukan Sekedar Mendaki dan Kawah Ijen Menjadi Saksi Bisu

5 Aug 2015

Akhirnya…. Penantian panjang selama ini telah terbayar lunas dengan keindahan dari sang Maha Kuasa. Ya, aku yang hanya seseorang yang berbadan gembul susah rasanya jika harus berjalan naik ke puncak gunung. Jangankan untuk ke puncak gunung, untuk menaiki tangga empat lantai udah kayak mau mati aja ngos-ngosan. Dan itu pernah terbukti ketika tahun lalu aku diajak oleh temanku untuk naik ke Kawah Ijen dan taukah kamu apa yang terjadi? Aku hanya melambaikan tangan ke kamera tanda gak kuat, hiks. Dan itulah semenjak setahun belakangan ini aku jadi tidak bisa konsen untuk nulis catatan-catatan perjalananku, hingga suatu saat aku bertekad untuk lebih rajin menulis ketika aku sudah mencapai puncak dari kawah ijen. Kayaknya mustahil deh kalo aku bisa kesana lagi dan naik lagi. Secara transportasi kesana sangat terbatas, dan terhalang oleh teman perjalanan. Tapi Tuhan berkata lain, di awal Juni, seorang lelaki sekaligus mentor para pendaki menghubungiku untuk menanyakan kesediaanku untuk menaiki Kawah Ijen lagi. Akupun dengan nada yang setengah tak percaya malah balik bertanya padanya. Apakah aku bisa? apakah aku kuat? Apakah tidak merepotkanmu? Tahun lalu aku pernah gagal mendaki Kawah Ijen dan tepat saat itu akupun juga mendaki bersamanya.

Sepertinya dia menangkap kegelisahan yang tersirat dari nada yang kusampaikan. Dengan berbagai alasan panjang dan lebar dan dengan sungguh-sungguh dia meyakinkanku, akhirnya pun aku luluh dengan ajakannya dengan syarat dia sanggup membawaku hingga ke puncak. Aku tau dia lebih berpengalaman dibandingkan aku, tapi dengan tubuhku yang gembul ini rasanya sangat sulit untuk meyakinkan diriku sendiri untuk sampai ke puncak. Apalagi ibu beserta adik ku pun tidak mendukungku untuk kesana lagi takut kejadian tahun lalu terulang lagi. Hingga pada akhirnya akhir Juni mas mentor mengabariku lagi kalau untuk ke Kawah Ijen perlu sewa elf dan dia membutuhkan DP dari tiap-tiap orang untuk menyewa transportasi. Ahhh…rasanya makin terdesak aja. Itu artinya akupun tidak boleh mundur untuk misi tahun ini.

Tiba-tiba ijin dari ibuku tidak aku kantongi, beliau beralasan kuliahku lebih penting dari sekedar berpergian ke luar kota, karena memang aku tengah menghadapi sidang skripsi yang diujung mata. Dengan berat hati kukabarkan ke mas mentor kalau aku mengurungkan niatku pergi kesana dikarenakan ada persiapan skripsi. Hari berganti hari dan tak terasa sebentar lagi aku bertemu dengan sidang skripsi. Oh Tuhan engkau memang Maha Membolak Balikkan Hati Manusia. Tadinya aku yang fokus menghadapi sidang skripsi ternyata aku tidak bisa menyelesaikan skripsiku tepat waktu. Hingga pada akhirnya aku melewati batas deadline pendaftaran sidang skripsi. Sedih? Pasti…Hingga pada akhirnya kukabari lagi ke mas mentor untuk niatanku pergi Ke Kawah Ijen. Dan taraaaa….kuota sudah terpenuhi. Lemaslah sudah harapanku. Dua hal yang tengah aku perjuangkan kini hanya ada di pelupuk mata dan tak bisa aku gapai. Akupun menghibur diriku dengan menenggelamku dengan kesibukan-kesibukan untuk mengusir rasa sedihku.

Tuhan masih mencintai hambanya, H-4 menjelang keberangkatan ke Kawah Ijen, mas mentor mengabariku lagi kalau ada orang yang cancel, jadi akupun bisa ikut bersamanya. Senang? Bukan main rasanya. Aku tak dapat menggambarkan kesenanganku hingga akupun tertawa terharu mendengar kabar bahagia itu. Mas mentor pun berpesan untuk latihan fisik selama empat hari berturut-turut karena waktunya sangat mepet. Apa empat hari? EMPAT HARI? SATU DUA TIGA EMPAT, HANYA EMPAT? Kupandangi kalenderku sedari tadi, jika dibandingkan dengan logika manusia serasa tak bisa dimengerti. Karena tekadku yang teramat bulat akhirnya kuputuskan untuk latihan dengan berlari-lari didalam rumah selama 15 menit . Sudah tidak ada waktu lagi aku untuk berlari-berlari mengelilingi taman, sudah tidak ada waktu lagi aku untuk mengikuti senam. Empat hari benar-benar aku maksimalku untuk latihan fisik. Selebihnya aku menggunakan tangga di kantor untuk berlatuh fisik. Yap, ketika yang lainnya sibuk dengan istirahat siang, aku berlatih naik turun tangga selama 15 menit. Setelah pulang dari kantor akupun menyempatkan diri untuk berlatih naik turun tangga di kantorku.

Dan hari H pun tiba, dengan segala kepasrahanku pada Tuhan Yang Maha Kuasa akupun mulai menapaki jalanan langkah demi langkah. Lama kelamaan langkahku pun mulai melambat dan pada akhirnya akupun berada di belakang rombongan. Sang mentorpun mengerti akan keadanku, lalu dia menyuruh untuk orang lain untuk memimpin rombongan yang sudah jalan duluan. Dia pun mendelegasikan seseorang untuk menemani dan menyemangati aku hingga akhirnyapun aku bisa berada di puncak perjalanan. Rasanya akupun ingin berteriak kencang. Terimakasih Tuhan engkau telah mengirim orang-orang baik untuk menemaniku hingga ke ujung perjalanan. Terimakasih kepada mas-mas yang sudah rela berbohong kepadaku demi untuk sampai ke puncak. Mas yang sudah memberitahukan jarak perjalanan dari 2 km menjadi 100 meter. Dan bodohnya aku, aku mempercayainya hingga akupun tersadar sepertinya aku sudah berjalan sedari tadi dan sudah melaui 100 m bahkan 1 km jalan yang menanjak. Terimakasih kepada mbak-mbak yang sudah memberikan permen fisherman yang bisa memberikanku dopping hingga aku kembali semangat. Terimakasih all friend yang baru aku kenal, tanpa kalian akupun tak pernah sampai ke puncak. Hingga pada akhirnya mas yang telah menemaniku selama perjalan menulis sebuah status di FB nya.

Bagi saya, yang namanya mendaki gunung itu bukan sekedar hobi, tapi banyak makna dan hakikat dibalik Itu semua. Bagaimana kita harus berjuang untuk hanya sekedar melihat ciptaan Gusti Penguasa Langit dan Bumi. Bagaimana kita berempati dengan orang lain serta tidak berperilaku egois terhadap teman satu team, saling membantu dan saling memberi semangat kepada para hiking lainnya. Dan yang utama adalah bagaimana kita bisa lebih bersyukur atas keindahan ciptaannya, kebesarannya, ke Maha Esa annya. –WH-

 


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me