Matahari itu Terbit di Pantai Goa Cina

16 Sep 2015

Perjalanan malam yang sungguh panjang membuat tangan dan kaki ini seolah memanggil-manggil untuk diistirahatkan walaupun aku telah memejamkan mata untuk beberapa saat dalam kendaraan roda empat. Kali ini aku dan 11 orang temanku akan menikmati alam yang telah dibuat Tuhan dengan indahnya. Rencananya memang kita berduabelas akan bermalam di Pantai Clungup, tetapi mas leader memutar rencananya hingga sampailah kita ke Pantai Goa Cina, Malang Selatan.

Kalau ditanya bagaimana rute untuk mencapai sana, terung terang aku gak paham, karena aku paling susah menghapal jalan. Apalagi perjalanan di malam hari yang membuatku tak tahan untuk memejamkan mata. Beberapa kali ku coba membuka mata yang terlihat hanya deretan pohon-pohon yang membentuk hutan hingga kami sampai tujuan. Dan aku pun lebih banyak tidurnya daripada meleknya, efek hawa dingin kali ya… Yang jelas kalau kamu mau kesana pergilah kearah Pantai Sendang Biru daerah Malang Selatan. Nah disitu banyak sekali pantai-pantai yang berderet tinggal pilih aja mana yang kamu mau.

Perjalan ke Pantai Goa Cina memang tidak beraspal, bukan karena memang disetting begitu, tapi di deretan tersebut sedang terjadi pembangunan untuk pembuatan Jalur Lintas Selatan. Kalau kamu pernah ke Gunung Kidul, Yogyakarta atau Pacitan, Jawa Timur pasti kamu tau bagaimana pemerintah betul-betul membangun daerah pesisir untuk dijadikan potensi wisata daerah. Begitu juga dengan daerah Malang Selatan. Banyaknya sebaran pantai didaerah tersebut berpotensi untuk mendatangkan wisatawan hingga membuat pemasukan daerah.

Pukul 3 dinihari sampailah kami di gerbang masuk pantai, karena keadaan pantai yang masih gelap kamipun membangun tenda di area yang agak jauh dari bibir pantai. Oh God…ini seperti di dongeng-dongeng ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Bintang-bintang berlomba-lomba menampakkan cahayanya yang begitu indah. Sepanjang mata memandang tak terlihat sedikitpun langit yang kosong, semuanya penuh dengan bintang-bintang. Kebetulan tenda yang saya tempati punya langit-langit yang transparan. Ohhh… indahnya rebahan sambil memandang bintang-bintang disana. Udara yang dingin membuat syahdu suasana yang ada tapi sayangnya kameraku tak bisa mengambil moment indah itu, hiks…. Kuambil sarung baliku dan kubalut badanku untuk mengurangi rasa dingin yang ada. Karena pada dasarnya aku tukang tidur ya jadilah aku tertidur sampai kata temen-temen sih aku tidurnya kayak orang mati, gara-gara dibangunin gak ada pergerakan sama sekali, ckckckck….

Pukul 05.15, seseorang membangunkanku hingga tubuhku bergoyang-goyang, “tan..tan…bangun…kamu gak pengen lihat matahari terbit ta…” samar-samar suara itu mulai membuat kelopak mataku terbuka sedikit demi sedikit. “tannn…tannn….” Suara itu memanggil lagi berulang kali hingga akupun tak kuasa untuk beranjak dari tenda. Setengah gontai kutanya mas leader yang ada didepan tenda, “mas ada kompas?”. “Buat apa”, jawabnya. “pokoknya ada kompas gak”, tanyaku setengah agak ngotot. “Kalau kamu mau sholat Subuh, tuh disitu ada Mushola besar”, seraya menunjuk tempat yang sedang kucari. “hehehehe” ngibritlah aku kesana dengan muka merah akibat ngotot dengan setengah belum sadar.

Suasana mulai terang, perlahan tetapi pasti matahari mulai mucul. Sunrise terindah yang pernah saya temui, walaupun keadaan pantai lumayan ramai tapi suasana itu tetap khidmad menikmati detik-detik munculnya matahari. Hingga kamipun tak sadar jam menunjukkan pukul 7.30. Hingga akhirnya kami beres-beres untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sempu.


TAGS pantai malang selatan


Comment
-

Author

Follow Me